Teori Ekspatriat
Studi 1:
Penelitian yang dilakukan oleh International Health Policy Program, Ministry of Public Health, Nonthaburi 11000, Thailand, Educational Service Unit, Sirindron College of Public Health, Chonburi 20000, Thailand, dan Division of Epidemiology, Department of Disease Control, Nonthaburi 11000, Thailand ini bertujuan untuk mengeksplorasi status kesehatan suami Barat yang menikah dengan perempuan Thailand di wilayah timur laut Thailand dan mengidentifikasi hambatan yang menghalangi akses mereka ke layanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dan diskusi kelompok fokus dengan 42 informan kunci yang terlibat dalam masalah sosial dan kesehatan di antara para ekspatriat ini. Kerangka penentu sosial diadaptasi untuk memandu wawancara dan analisis tematik induktif diterapkan pada data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ekspatriat laki-laki yang menikah dengan perempuan Thailand di wilayah timur laut Thailand berada pada usia pensiun dan memiliki penyakit tidak menular, perilaku berisiko terhadap kesehatan, dan masalah kesehatan mental. Sebagian besar dari mereka tidak membeli asuransi kesehatan dan memiliki pandangan negatif terhadap kualitas layanan perawatan kesehatan di rumah sakit umum Thailand, yang ditunjukkan sebagai hambatan utama dalam mengakses layanan kesehatan. Hambatan signifikan lainnya terdiri dari biaya pengobatan yang tinggi yang biasa dikenakan oleh rumah sakit swasta dan masalah bahasa. Dalam diskusi, penulis menyarankan bahwa sementara peningkatan kualitas layanan kesehatan dan penyediaan layanan kesehatan yang ramah penting, komunikasi publik dengan penduduk asing, terutama ekspatriat laki-laki, direkomendasikan untuk meningkatkan pemahaman dan meningkatkan persepsi sistem perawatan kesehatan Thailand. Penulis juga menyarankan untuk melakukan survei berbasis populasi secara teratur tentang kesehatan dan kesejahteraan ekspatriat di Thailand, studi biaya paket asuransi kesehatan, studi survei tentang kemauan untuk membayar premi asuransi kesehatan, dan studi kelayakan yang mengeksplorasi kesempatan untuk mendirikan asuransi kesehatan sukarela atau wajib di antara kelompok ini.
Teori pertama yang digunakan adalah hierarki kebutuhan Maslow, yang menyatakan bahwa individu memiliki hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi, dengan kebutuhan fisiologis menjadi yang paling dasar. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar ekspatriat laki-laki yang menikah dengan perempuan Thailand di wilayah timur laut Thailand memiliki penyakit tidak menular, perilaku berisiko terhadap kesehatan, dan masalah kesehatan mental, menunjukkan bahwa kebutuhan fisiologis mereka tidak terpenuhi.
Teori kedua yang digunakan adalah teori akulturasi budaya Berry, yang menyatakan bahwa individu dari budaya yang berbeda beradaptasi dengan budaya tuan rumah dengan cara yang berbeda. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar ekspatriat memiliki pandangan negatif terhadap kualitas layanan perawatan kesehatan di rumah sakit umum Thailand, menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya beradaptasi dengan sistem layanan kesehatan budaya tuan rumah.
Teori ketiga yang digunakan adalah teori perilaku konsumen Kotler dan Keller, yang menyatakan bahwa perilaku konsumen dipengaruhi oleh kebutuhan, sikap, dan persepsi mereka. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar ekspatriat tidak membeli asuransi kesehatan dan memiliki pandangan negatif terhadap kualitas layanan perawatan kesehatan di rumah sakit umum Thailand, menunjukkan bahwa mereka menghargai layanan kesehatan berkualitas dan mempertimbangkan biaya dalam pengambilan keputusan kesehatan. Dalam diskusi, penulis menyarankan untuk meningkatkan pemahaman dan meningkatkan persepsi sistem perawatan kesehatan Thailand melalui komunikasi publik dengan penduduk asing, terutama ekspatriat laki-laki. Penulis juga menyarankan untuk melakukan survei berbasis populasi secara teratur tentang kesehatan dan kesejahteraan ekspatriat di Thailand, studi biaya paket asuransi kesehatan, studi survei tentang kemauan untuk membayar premi asuransi kesehatan, dan studi kelayakan yang mengeksplorasi kesempatan untuk mendirikan asuransi kesehatan sukarela atau wajib di antara kelompok ini.
Studi 2:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola penggunaan layanan kesehatan, kebutuhan layanan kesehatan yang belum terpenuhi, dan potensi layanan telemedicine di kalangan ekspatriat Korea yang tinggal di Vietnam, Kamboja, dan Uzbekistan. Penelitian ini menggunakan metode survei lintas-seksional dengan mengumpulkan data dari 429 ekspatriat Korea yang tinggal di ketiga negara tersebut dan memiliki akses internet serta telah tinggal selama minimal 6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45,5% responden pernah menggunakan layanan medis di negara tempat tinggal mereka. Dari responden yang mengunjungi institusi kesehatan lebih dari 3 kali, 39,4% memilih rumah sakit umum sebagai pilihan utama mereka. Namun, sebagian besar dari mereka mengunjungi dokter Korea atau dokter lokal terlebih dahulu. Kriteria paling penting dalam memilih fasilitas layanan kesehatan adalah "tenaga profesional yang terampil" (39,3%), 42% responden menginginkan program kesehatan untuk manajemen penyakit kronis, dan 30% responden menginginkan layanan kesehatan internal yang spesialis. Sebagian besar responden juga tertarik dengan layanan telemedicine dan bersedia membayar untuk layanan ini. Mereka tertarik dengan opini kedua dari para ahli (61,5%) dan konsultasi medis cepat 24 jam (60,8%). Responden yang lebih muda dan memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang belum terpenuhi cenderung lebih tertarik pada layanan telemedicine. Berdasarkan hasil penelitian, hampir setengah dari ekspatriat di negara berkembang memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang belum terpenuhi. Layanan telemedicine dianggap sebagai solusi potensial untuk memenuhi kebutuhan ini, terutama di negara berkembang. Studi ini menunjukkan bahwa layanan telemedicine dapat menjadi alternatif yang efektif untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan yang belum terpenuhi di kalangan ekspatriat Korea.:
Teori Kebutuhan Maslow: Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang terdiri dari lima tingkatan, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Dalam penelitian ini, kebutuhan kesehatan dapat dikategorikan sebagai kebutuhan fisiologis dan keamanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang belum terpenuhi, yang dapat dihubungkan dengan kebutuhan fisiologis dan keamanan. Selain itu, kebutuhan untuk tenaga profesional yang terampil dan program kesehatan untuk manajemen penyakit kronis dapat dikaitkan dengan kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri.
Teori Akulturasi Budaya Berry: Teori ini menggambarkan proses penyesuaian individu dengan budaya yang berbeda. Dalam penelitian ini, ekspatriat Korea harus menyesuaikan diri dengan budaya kesehatan yang berbeda di Vietnam, Kamboja, dan Uzbekistan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengunjungi dokter Korea atau dokter lokal terlebih dahulu pada kunjungan pertama namun pada kunjungan kedua mereka tetap memilih mencari dokter Korea, yang menunjukkan bahwa mereka mencoba menyesuaikan diri dengan budaya kesehatan setempat. Namun, kebutuhan untuk tenaga profesional yang terampil menunjukkan bahwa mereka masih menginginkan standar kesehatan yang sama dengan yang mereka terima di Korea.
Teori Perilaku Konsumen Kotler dan Keller: Teori ini menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam memilih produk atau layanan. Dalam penelitian ini, faktor-faktor seperti kriteria pemilihan fasilitas layanan kesehatan dan ketertarikan pada layanan telemedicine dapat dikaitkan dengan teori ini. Responden memilih fasilitas layanan kesehatan berdasarkan kriteria seperti tenaga profesional yang terampil, program kesehatan untuk manajemen penyakit kronis, dan layanan kesehatan internal yang spesialis. Selain itu, sebagian besar responden tertarik dengan layanan telemedicine karena opini kedua dari para ahli dan konsultasi medis cepat 24 jam, yang menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kepercayaan dan kenyamanan mempengaruhi keputusan mereka dalam memilih layanan kesehatan.
Studi 3: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi ketersediaan dan efisiensi sistem perawatan kesehatan bagi ekspatriat di Arab Saudi. Penulis menemukan bahwa meskipun sebagian besar partisipan memiliki polis asuransi kesehatan, namun tidak semua layanan tersedia untuk mereka. Sebagian besar partisipan melaporkan bahwa polis asuransi kesehatan mereka tidak mencakup risiko yang mereka hadapi, seperti biaya pengobatan medis, operasi, dan tindakan medis lainnya. Hal ini dapat menimbulkan beban finansial bagi ekspatriat jika klaim asuransi kesehatan mereka ditolak. Penulis juga menemukan bahwa kualitas polis asuransi kesehatan sangat bergantung pada pilihan yang dibuat oleh pengusaha. Regulasi pemerintah tidak mengatur jenis dan kualitas asuransi kesehatan yang digunakan, sehingga memungkinkan pengusaha untuk memilih polis asuransi yang paling murah tanpa mempertimbangkan kebutuhan kesehatan ekspatriat. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dalam pengumpulan data primer. Sebanyak 324 responden diambil sebagai sampel dan hasilnya menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan dalam sistem asuransi kesehatan bagi ekspatriat di Arab Saudi. Penulis menyimpulkan bahwa perlu ada regulasi yang lebih ketat dalam memastikan ketersediaan layanan kesehatan yang memadai bagi ekspatriat dan keluarga mereka, serta perlu ada upaya untuk meningkatkan kualitas polis asuransi kesehatan yang tersedia bagi ekspatriat.
Teori kebutuhan Maslow: dapat dikaitkan dengan kebutuhan dasar manusia akan kesehatan dan perawatan kesehatan yang memadai. Temuan bahwa tidak semua layanan kesehatan tersedia bagi ekspatriat dan bahwa polis asuransi kesehatan mereka tidak mencakup risiko yang mereka hadapi dapat dianggap sebagai penghalang untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia tersebut.
Teori akulturasi budaya Berry: dapat dikaitkan dengan perbedaan budaya antara ekspatriat dan masyarakat Arab Saudi dalam hal perawatan kesehatan. Temuan bahwa regulasi pemerintah tidak mengatur jenis dan kualitas asuransi kesehatan yang digunakan dapat dianggap sebagai akulturasi budaya yang tidak mempertimbangkan kebutuhan kesehatan ekspatriat.
Teori perilaku konsumen Kotler dan Keller: dapat dikaitkan dengan pengaruh pilihan pengusaha terhadap kualitas polis asuransi kesehatan yang tersedia bagi ekspatriat. Pilihan pengusaha yang memilih polis asuransi yang paling murah tanpa mempertimbangkan kebutuhan kesehatan ekspatriat dapat dianggap sebagai faktor perilaku konsumen yang mempengaruhi kualitas layanan kesehatan yang tersedia bagi ekspatriat.
Studi 4 : Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan tentang manfaat asuransi kesehatan dapat berhubungan dengan kurangnya akses ke layanan kesehatan, terutama bagi populasi minoritas seperti ekspatriat. Dalam penelitian ini, 15% partisipan tidak memiliki akses ke layanan kesehatan, dan sebagian besar dari mereka adalah pekerja kasar yang tidak memiliki pendidikan, telah bekerja kurang dari tiga tahun, dan bekerja untuk perusahaan dengan kurang dari 50 karyawan. Pengetahuan yang dirasakan rendah tentang asuransi kesehatan terkait dengan kurangnya akses ke layanan kesehatan. Hasilnya tidak signifikan untuk pengetahuan yang divalidasi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan yang dirasakan rendah tentang asuransi kesehatan ekspatriat terkait dengan kurangnya akses ke layanan kesehatan. Temuan penelitian ini memiliki implikasi yang signifikan bagi pembuat kebijakan dan perusahaan asuransi kesehatan di Arab Saudi. Perusahaan asuransi kesehatan perlu meningkatkan komunikasi mereka dengan pelanggan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang manfaat asuransi kesehatan. Pembuat kebijakan juga perlu mengatasi tantangan yang dihadapi oleh kelompok minoritas, seperti ekspatriat, dalam memahami cara kerja asuransi kesehatan dan cara mengestimasi biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Dengan melakukan hal ini, pembuat kebijakan dapat memastikan bahwa semua individu yang diasuransikan memiliki akses ke layanan kesehatan dan menerima perawatan yang mereka butuhkan.
Teori Kebutuhan Maslow
Teori kebutuhan Maslow digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh individu untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Dalam penelitian ini, teori kebutuhan Maslow dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa beberapa ekspatriat tidak memiliki akses ke layanan kesehatan. Sebagai contoh, pekerja kasar yang tidak memiliki pendidikan dan bekerja untuk perusahaan dengan kurang dari 50 karyawan mungkin mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan keamanan mereka, sehingga mereka tidak dapat memprioritaskan akses ke layanan kesehatan. Oleh karena itu, perusahaan asuransi kesehatan dapat menggunakan teori kebutuhan Maslow untuk memahami kebutuhan dasar dari pelanggan mereka dan menyesuaikan produk mereka untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Teori Akulturasi Budaya Berry
Teori akulturasi budaya Berry digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu menyesuaikan diri dengan budaya baru ketika mereka pindah ke negara yang berbeda. Dalam penelitian ini, teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa ekspatriat yang telah bekerja kurang dari tiga tahun mungkin mengalami kesulitan dalam memahami asuransi kesehatan dan akses ke layanan kesehatan di Arab Saudi. Oleh karena itu, perusahaan asuransi kesehatan dapat menggunakan teori akulturasi budaya Berry untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif untuk menjangkau pelanggan yang baru saja pindah ke negara itu.
Teori Perilaku Konsumen Kotler dan Keller
Teori perilaku konsumen Kotler dan Keller digunakan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen. Dalam penelitian ini, teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa pengetahuan yang dirasakan rendah tentang asuransi kesehatan terkait dengan kurangnya akses ke layanan kesehatan. Oleh karena itu, perusahaan asuransi kesehatan dapat menggunakan teori perilaku konsumen Kotler dan Keller untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan mereka dan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan pelanggan tentang manfaat asuransi kesehatan.
Study 5 :
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi ekspatriat di sektor swasta di Arab Saudi tentang manfaat dan fitur dari kebijakan asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh majikan mereka. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar ekspatriat membeli kebijakan asuransi kesehatan mereka melalui perantara yang memiliki pengetahuan yang lemah tentang bisnis asuransi. Mereka juga menunjukkan keinginan untuk menghadiri pelajaran kesadaran untuk mempelajari fitur dari kebijakan asuransi kesehatan mereka. Selain itu, ekspatriat juga menyatakan bahwa kebijakan asuransi kesehatan yang mereka miliki memiliki kualitas yang lemah dengan manfaat yang terbatas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk meluncurkan mekanisme pengukuran dan pengendalian untuk mengatur kepatuhan majikan dengan peraturan CEBHI untuk melindungi hak-hak ekspatriat dalam mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dengan memiliki kebijakan asuransi kesehatan yang tepat. Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi perusahaan asuransi kesehatan dan pembuat kebijakan di Arab Saudi untuk meningkatkan pengetahuan pelanggan mereka tentang manfaat asuransi kesehatan dan meningkatkan kualitas kebijakan asuransi kesehatan yang ditawarkan kepada ekspatriat.
Penelitian ini menggunakan tiga teori yang berbeda untuk menganalisis persepsi ekspatriat di Arab Saudi tentang kebijakan asuransi kesehatan. Berikut adalah analisis dari ketiga teori tersebut:
Teori Kebutuhan Maslow
Teori kebutuhan Maslow digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh individu untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Dalam penelitian ini, teori kebutuhan Maslow dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa ekspatriat membeli kebijakan asuransi kesehatan mereka melalui perantara yang memiliki pengetahuan yang lemah tentang bisnis asuransi. Hal ini dapat disebabkan oleh kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan yang dianggap penting bagi kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, perusahaan asuransi kesehatan dapat menggunakan teori kebutuhan Maslow untuk memahami kebutuhan dasar dari pelanggan mereka dan menyesuaikan produk mereka untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Teori Akulturasi Budaya Berry
Teori akulturasi budaya Berry digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu menyesuaikan diri dengan budaya baru ketika mereka pindah ke negara yang berbeda. Dalam penelitian ini, teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa ekspatriat membutuhkan pelajaran kesadaran untuk mempelajari fitur dari kebijakan asuransi kesehatan mereka. Hal ini dapat disebabkan oleh kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan budaya asuransi kesehatan yang berbeda di Arab Saudi. Oleh karena itu, perusahaan asuransi kesehatan dapat menggunakan teori akulturasi budaya Berry untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif untuk menjangkau pelanggan yang baru saja pindah ke negara itu.
Teori Perilaku Konsumen Kotler dan Keller
Teori perilaku konsumen Kotler dan Keller digunakan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen. Dalam penelitian ini, teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa ekspatriat menyatakan bahwa kebijakan asuransi kesehatan yang mereka miliki memiliki kualitas yang lemah dengan manfaat yang terbatas. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurangnya pengetahuan tentang manfaat asuransi kesehatan atau kurangnya pilihan kebijakan yang tersedia. Oleh karena itu, perusahaan asuransi kesehatan dapat menggunakan teori perilaku konsumen Kotler dan Keller untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan mereka dan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan pelanggan tentang manfaat asuransi kesehatan dan meningkatkan kualitas kebijakan yang ditawarkan kepada mereka.
Study 6 :
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi ekspatriat di sektor swasta di Arab Saudi tentang manfaat dan fitur dari kebijakan asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh majikan mereka. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar ekspatriat membeli kebijakan asuransi kesehatan mereka melalui perantara yang memiliki pengetahuan yang lemah tentang bisnis asuransi. Mereka juga menunjukkan keinginan untuk menghadiri pelajaran kesadaran untuk mempelajari fitur dari kebijakan asuransi kesehatan mereka. Selain itu, ekspatriat juga menyatakan bahwa kebijakan asuransi kesehatan yang mereka miliki memiliki kualitas yang lemah dengan manfaat yang terbatas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk meluncurkan mekanisme pengukuran dan pengendalian untuk mengatur kepatuhan majikan dengan peraturan CEBHI untuk melindungi hak-hak ekspatriat dalam mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dengan memiliki kebijakan asuransi kesehatan yang tepat. Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi perusahaan asuransi kesehatan dan pembuat kebijakan di Arab Saudi untuk meningkatkan pengetahuan pelanggan mereka tentang manfaat asuransi kesehatan dan meningkatkan kualitas kebijakan asuransi kesehatan yang ditawarkan kepada ekspatriat. Dalam pembahasan, peneliti menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan ekspatriat tentang kebijakan asuransi kesehatan yang mereka miliki. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan dan informasi yang lebih baik tentang fitur dan manfaat kebijakan asuransi kesehatan mereka. Selain itu, peneliti juga menyarankan perusahaan asuransi kesehatan untuk memperbaiki kualitas kebijakan asuransi kesehatan yang ditawarkan kepada ekspatriat, termasuk menambahkan manfaat dan pilihan yang lebih banyak. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kepatuhan majikan dengan peraturan CEBHI untuk melindungi hak-hak ekspatriat dalam mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. Peneliti menyarankan perlu adanya mekanisme pengukuran dan pengendalian untuk memastikan bahwa majikan mematuhi peraturan tersebut dan memberikan kebijakan asuransi kesehatan yang sesuai kepada ekspatriat. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan yang berharga tentang persepsi ekspatriat di Arab Saudi tentang kebijakan asuransi kesehatan. Implikasi dan saran yang dihasilkan dari penelitian ini dapat membantu perusahaan asuransi kesehatan dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas kebijakan asuransi kesehatan yang ditawarkan kepada ekspatriat.
Penelitian ini menggunakan tiga teori yang berbeda untuk menganalisis persepsi ekspatriat di Arab Saudi tentang kebijakan asuransi kesehatan.
Teori kebutuhan Maslow digunakan untuk memahami motivasi ekspatriat dalam membeli kebijakan asuransi kesehatan. Menurut teori ini, setiap individu memiliki hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga kebutuhan aktualisasi diri. Dalam konteks ini, ekspatriat mungkin membeli kebijakan asuransi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan keamanan mereka.
Teori akulturasi budaya Berry digunakan untuk memahami bagaimana ekspatriat menyesuaikan diri dengan budaya baru di Arab Saudi dan bagaimana hal ini mempengaruhi persepsi mereka tentang kebijakan asuransi kesehatan. Menurut teori ini, ada empat strategi akulturasi yang dapat digunakan oleh individu dalam menghadapi budaya baru: asimilasi, integrasi, segregasi, dan marginasi. Dalam konteks ini, ekspatriat yang menggunakan strategi integrasi mungkin lebih terbuka untuk mempelajari fitur dan manfaat dari kebijakan asuransi kesehatan mereka.
Teori perilaku konsumen Kotler dan Keller digunakan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian ekspatriat terkait kebijakan asuransi kesehatan. Menurut teori ini, faktor-faktor seperti budaya, sosial, pribadi, dan psikologis dapat mempengaruhi perilaku konsumen. Dalam konteks ini, faktor-faktor seperti pengetahuan yang terbatas tentang bisnis asuransi dan kualitas kebijakan asuransi kesehatan yang lemah dapat mempengaruhi keputusan pembelian ekspatriat.
Secara keseluruhan, penggunaan ketiga teori ini membantu dalam memahami persepsi ekspatriat di Arab Saudi tentang kebijakan asuransi kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Implikasi dari penelitian ini dapat membantu perusahaan asuransi kesehatan dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas kebijakan asuransi kesehatan yang ditawarkan kepada ekspatriat.
Study 7 :
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas layanan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien ekspatriat di Klinik Gigi Bali International Dental Center di Denpasar, Bali. Dalam penelitian ini, lima dimensi kualitas layanan yaitu keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik, diukur dan dianalisis pengaruhnya terhadap kepuasan pasien ekspatriat. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien ekspatriat.
Dari kelima dimensi kualitas layanan tersebut, dimensi daya tanggap memiliki pengaruh paling besar terhadap kepuasan pasien ekspatriat, diikuti oleh dimensi empati, keandalan, jaminan, dan bukti fisik. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan dan kemampuan klinik dalam menanggapi kebutuhan pasien dan memberikan perhatian yang baik terhadap pasien sangat penting dalam meningkatkan kepuasan pasien ekspatriat di Klinik Gigi Bali International Dental Center. Pembahasan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas layanan yang baik sangat penting dalam meningkatkan kepuasan pasien ekspatriat di Klinik Gigi Bali International Dental Center. Oleh karena itu, klinik perlu memperhatikan dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada pasien, terutama dalam hal daya tanggap dan empati. Dengan demikian, klinik dapat mempertahankan dan meningkatkan kepuasan pasien ekspatriat yang menjadi pelanggan mereka.
Penelitian ini menggunakan tiga teori yang berbeda untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien ekspatriat di Klinik Gigi Bali International Dental Center di Denpasar, Bali. Berikut adalah analisis dari ketiga teori yang digunakan:
Teori Kebutuhan Maslow: Teori ini digunakan untuk memahami motivasi pasien ekspatriat dalam mencari layanan kesehatan di Klinik Gigi Bali International Dental Center. Menurut teori ini, setiap individu memiliki hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga kebutuhan aktualisasi diri. Dalam konteks ini, pasien ekspatriat mungkin mencari layanan kesehatan di klinik tersebut untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan keamanan mereka, seperti memperbaiki kondisi gigi dan mulut mereka.
Teori Akulturasi Budaya Berry: Teori ini digunakan untuk memahami bagaimana pasien ekspatriat menyesuaikan diri dengan budaya baru di Indonesia dan bagaimana hal ini mempengaruhi persepsi mereka tentang layanan kesehatan yang diberikan oleh Klinik Gigi Bali International Dental Center. Menurut teori ini, ada empat strategi akulturasi yang dapat digunakan oleh individu dalam menghadapi budaya baru: asimilasi, integrasi, segregasi, dan marginasi. Dalam konteks ini, pasien ekspatriat yang menggunakan strategi integrasi mungkin lebih terbuka untuk mempelajari fitur dan manfaat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh klinik tersebut.
Teori Perilaku Konsumen Kotler dan Keller: Teori ini digunakan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pasien ekspatriat terkait layanan kesehatan di Klinik Gigi Bali International Dental Center. Menurut teori ini, faktor-faktor seperti budaya, sosial, pribadi, dan psikologis dapat mempengaruhi perilaku konsumen. Dalam konteks ini, faktor-faktor seperti reputasi klinik, kualitas layanan, harga, dan kemudahan akses mungkin mempengaruhi keputusan pembelian pasien ekspatriat.
Secara keseluruhan, penggunaan ketiga teori ini membantu dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien ekspatriat di Klinik Gigi Bali International Dental Center dan bagaimana klinik dapat meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada pasien. Implikasi dari penelitian ini dapat membantu klinik dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang ditawarkan kepada pasien ekspatriat dan mempertahankan kepuasan mereka sebagai pelanggan klinik.
Study 8 :
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi peran asal negara dan word-of-mouth (WOM) dalam proses keputusan ekspatriat dalam mencari penyedia layanan kesehatan di negara tujuan mereka. Penelitian ini menggunakan data dari 223 responden ekspatriat di tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal negara dan WOM mempengaruhi keputusan ekspatriat dalam memilih penyedia layanan kesehatan di negara tujuan mereka. Ditemukan bahwa ekspatriat dari negara-negara Asia Timur cenderung memilih penyedia layanan kesehatan dari negara mereka sendiri, sedangkan ekspatriat dari negara-negara Barat cenderung memilih penyedia layanan kesehatan lokal. Selain itu, WOM juga mempengaruhi keputusan ekspatriat dalam memilih penyedia layanan kesehatan. Pembahasan dari penelitian ini menunjukkan bahwa asal negara dan WOM dapat menjadi faktor penting dalam proses keputusan ekspatriat dalam mencari layanan kesehatan di negara tujuan mereka. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa penyedia layanan kesehatan di negara-negara tujuan yang memiliki populasi ekspatriat yang signifikan perlu memperhatikan faktor-faktor ini dalam upaya mereka untuk menarik pelanggan ekspatriat. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang diberikan dan memperkuat WOM positif dari pelanggan ekspatriat yang sudah ada. Selain itu, pemerintah juga dapat memperhatikan faktor-faktor ini dalam upaya mereka untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di negara mereka dan menarik lebih banyak ekspatriat untuk tinggal dan bekerja di negara mereka.
Penelitian tentang proses pengambilan keputusan penyedia layanan kesehatan oleh ekspatriat menggunakan tiga teori, yaitu hierarki kebutuhan Maslow, teori akulturasi budaya Berry, dan teori perilaku konsumen Kotler dan Keller.
Hierarki kebutuhan Maslow menyatakan bahwa kebutuhan manusia diatur dalam urutan hierarkis, di mana kebutuhan tingkat rendah harus dipenuhi sebelum kebutuhan tingkat lebih tinggi dapat ditangani1. Penelitian menemukan bahwa kebutuhan fisiologis ekspatriat, seperti akses ke layanan kesehatan, menjadi prioritas utama dalam proses pengambilan keputusan mereka ketika mencari penyedia layanan kesehatan di negara tujuan mereka.
Teori akulturasi budaya Berry berfokus pada proses adaptasi ke budaya baru dan bagaimana hal itu mempengaruhi perilaku individu2. Penelitian menemukan bahwa latar belakang budaya ekspatriat memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan penyedia layanan kesehatan mereka. Misalnya, ekspatriat dari negara-negara Asia Timur cenderung memilih penyedia layanan kesehatan dari negara asal mereka, sedangkan ekspatriat dari negara-negara Barat lebih memilih penyedia layanan kesehatan lokal.
Teori perilaku konsumen Kotler dan Keller menyatakan bahwa perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti keyakinan pribadi, nilai budaya, dan pengaruh sosial3. Penelitian menemukan bahwa rekomendasi dari mulut ke mulut dari ekspatriat lain memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan penyedia layanan kesehatan ekspatriat.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan latar belakang budaya dan kebutuhan ekspatriat dalam menyediakan layanan kesehatan di negara tujuan mereka. Penyedia layanan kesehatan dapat menggunakan teori-teori ini untuk lebih memahami dan memenuhi kebutuhan ekspatriat, seperti dengan menyediakan perawatan yang sesuai dengan budaya dan memanfaatkan rekomendasi dari mulut ke mulut untuk menarik lebih banyak pelanggan ekspatriat1.
Study 9 :
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian perawatan kesehatan dan mengeksplorasi masalah dengan pengalaman perawatan kesehatan dari Muslim dari negara-negara Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) yang tinggal di Jepang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan melakukan wawancara semi-struktural pada 45 Muslim dari Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat tema yang mempengaruhi perilaku pencarian perawatan kesehatan, yaitu: (1) mencoba mematuhi rekomendasi Islam, (2) kebingungan tentang sistem perawatan kesehatan, (3) mencari dukungan informal dan (4) masalah bahasa.
Penelitian ini menyoroti bahwa Muslim di Jepang mengalami beberapa masalah dalam memperoleh layanan perawatan kesehatan terutama karena masalah komunikasi selain konflik dalam memenuhi kewajiban agama mereka. Diperlukan pendidikan dan peningkatan kesadaran bagi pasien Muslim di Jepang serta penyedia layanan kesehatan Jepang untuk memungkinkan komunikasi yang lancar antara penyedia layanan kesehatan Jepang dan pasien Muslim di Jepang.
Penelitian ini memiliki kekuatan dalam menggunakan kerangka kerja teori perilaku yang direncanakan sebagai kerangka kerja konseptual untuk memberikan pemahaman yang kompleks dan komprehensif tentang perilaku pencarian perawatan kesehatan Muslim. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode analisis tematik untuk menganalisis data. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal generalisasi temuan karena hanya melibatkan partisipan Muslim dari Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Jepang pada saat penelitian dilakukan.
Dalam penelitian yang dilakukan, terdapat tiga teori yang digunakan sebagai kerangka konseptual, yaitu teori kebutuhan Maslow, teori akulturasi budaya Berry, dan teori perilaku konsumen Kotler dan Keller.
Teori kebutuhan Maslow dapat digunakan untuk memahami bahwa kebutuhan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Hal ini dapat dikaitkan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa faktor agama menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian perawatan kesehatan dari Muslim dari negara-negara Asia Tenggara yang tinggal di Jepang. Faktor agama ini mencakup upaya untuk memenuhi rekomendasi Islam dalam mencari perawatan kesehatan.
Teori akulturasi budaya Berry dapat digunakan untuk memahami bagaimana individu dari budaya yang berbeda menyesuaikan diri dengan budaya baru yang berbeda. Dalam penelitian ini, faktor budaya juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian perawatan kesehatan dari Muslim dari negara-negara Asia Tenggara yang tinggal di Jepang. Responden mengalami kebingungan terhadap sistem perawatan kesehatan di Jepang yang berbeda dengan sistem perawatan kesehatan di negara asal mereka.
Teori perilaku konsumen Kotler dan Keller dapat digunakan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian perawatan kesehatan, seperti persepsi dan sikap terhadap perawatan kesehatan, serta faktor lingkungan seperti sistem perawatan kesehatan yang tersedia. Dalam penelitian ini, faktor lingkungan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian perawatan kesehatan dari Muslim dari negara-negara Asia Tenggara yang tinggal di Jepang. Responden mengalami masalah bahasa dan kesulitan berkomunikasi dengan penyedia layanan kesehatan di Jepang.
Secara keseluruhan, ketiga teori tersebut dapat memberikan pemahaman yang berguna untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian perawatan kesehatan dari Muslim dari negara-negara Asia Tenggara yang tinggal di Jepang.
Study 10 :
Penelitian ini membahas tentang kerangka konseptual untuk memahami perilaku pencarian layanan kesehatan (HSB) dari migran, termasuk imigran internasional dan migran internal. Meskipun universal health coverage penting untuk memastikan akses kesehatan sebagai hak asasi manusia, namun dilaporkan bahwa migran, termasuk imigran internasional dan migran internal, kurang menggunakan layanan kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memiliki kerangka konseptual yang memfasilitasi penelitian tentang HSB migran. Banyak kerangka teoritis yang menjelaskan perilaku pencarian layanan kesehatan dari populasi umum telah diterbitkan, namun kebanyakan kerangka teoritis tentang HSB migran hanya berfokus pada imigran internasional tanpa memasukkan migran internal. Padahal, migran internal jauh lebih banyak daripada imigran dan kelompok ini menghadapi hambatan yang sama dalam HSB dengan imigran. Berdasarkan kerangka teoritis HSB imigran dan model perilaku Anderson, penulis mengusulkan sebuah kerangka konseptual baru tentang HSB migran yang mencakup baik imigran maupun migran internal. Kerangka konseptual baru ini membagi faktor-faktor penentu menjadi faktor-faktor makro-struktural atau kontekstual, karakteristik sistem pengiriman layanan kesehatan, dan karakteristik populasi yang berisiko dan menjelaskan faktor-faktor spesifik subkelompok. Penulis menambahkan beberapa variabel dan mengklasifikasikan variabel dalam beberapa dimensi, termasuk karakteristik sistem pengiriman layanan kesehatan dan akses ke layanan kesehatan. Karakteristik sistem pengiriman layanan kesehatan mencakup volume, organisasi, kualitas, dan biaya sistem pengiriman layanan kesehatan, sedangkan karakteristik akses ke layanan kesehatan meliputi aksesibilitas waktu, aksesibilitas geografis, dan aksesibilitas informasi. Hasil dari HSB telah diperluas, dan hubungan antara hasil tersebut telah dilaporkan. Efek mediasi dari beberapa variabel juga telah dijelaskan. Kerangka konseptual ini dapat memfasilitasi pemahaman yang mendalam dan komprehensif tentang proses penentuan HSB untuk migran, termasuk migran internal. Dalam penelitian ini, teori kebutuhan Maslow, teori akulturasi budaya Berry, dan teori perilaku konsumen Kotler dan Keller dapat dihubungkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan (HSB) dari migran, termasuk imigran internasional dan migran internal.
Teori kebutuhan Maslow dapat digunakan untuk memahami bahwa kebutuhan dasar seperti kebutuhan akan makanan, tempat tinggal, dan kesehatan harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang dapat mencapai kebutuhan yang lebih tinggi seperti kebutuhan akan pengakuan dan penghargaan. Dalam konteks HSB migran, faktor-faktor seperti aksesibilitas geografis dan biaya layanan kesehatan dapat mempengaruhi kebutuhan dasar ini dan memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan.
Teori akulturasi budaya Berry dapat membantu memahami bagaimana pengaruh budaya dapat memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan migran. Dalam penelitian ini, faktor-faktor seperti aksesibilitas informasi dan karakteristik sistem pengiriman layanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh perbedaan budaya, dan oleh karena itu dapat memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan migran.
Teori perilaku konsumen Kotler dan Keller dapat digunakan untuk memahami bagaimana faktor-faktor seperti harga, kualitas, dan aksesibilitas dapat memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan migran. Dalam penelitian ini, faktor-faktor seperti biaya layanan kesehatan dan kualitas sistem pengiriman layanan kesehatan dapat memengaruhi keputusan migran dalam mencari layanan kesehatan.
Dengan demikian, teori kebutuhan Maslow, teori akulturasi budaya Berry, dan teori perilaku konsumen Kotler dan Keller dapat membantu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan dari migran, termasuk migran internal dan imigran internasional. Dalam kerangka konseptual baru yang diusulkan dalam penelitian ini, faktor-faktor ini dikelompokkan ke dalam beberapa dimensi untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih komprehensif tentang proses penentuan HSB untuk migran.
Comments
Post a Comment